|
Tidak banyak orang tahu bahwa Gambang Kromong, yang sempat dipopulerkan oleh Lilis Suryani di tahun 60-an dan duet Benyamin S. - Ida Royani di tahun 70-an, adalah sebuah musik akulturatif berbagai etnis di Indonesia yang cikal bakalnya telah dirintis lebih dari dua abad lalu. Irama gambang kromong dengan tata laras Salendro Cina pertama kali diperkenalkan oleh orang-orang Tionghoa Peranakan sebelum akhirnya mengalami percampuran dengan budaya Jawa, Sunda, hingga Deli, membentuk sebuah musik harmonis yang kini menjadi salah satu ciri khas Betawi. Selain mengungkapkan sejarah panjang keharmonisan budaya dan musik tersebut lewat gaya tuturnya yang dinamis dan fluid, film ini juga sekilas bercerita tentang kehidupan orang-orang Tionghoa Peranakan sebagai pelaku utama musik Gambang Kromong saat ini. Sebagian dari mereka telah menetap di Sunda Kelapa sejak abad ke-15 dan perlahan-lahan tergeser kedudukan sosial, ekonomi maupun geografisnya hingga kini kian termarjinalisasikan di pinggiran kota Jakarta. Walaupun masih memegang adat tradisi Konfucianisme dan Cina Peranakan yang kuat hingga hari ini, mereka hidup bercampur menjadi satu nyaris tanpa perbedaan dengan penduduk setempat, memecahkan stereotip kaku orang-orang Tionghoa Indonesia yang cenderung menutup diri dengan gelimangan hartanya. Berdasarkan kompleksitas musik Gambang Kromong itu sendiri, film ini adalah sebuah catatan humanis, puitis, musikal, hingga komikal tentang musik dan budaya yang terpinggirkan.
Not many people know that Gambang Kromong—once popularised by Lilis Suryani in the 60’s and then by duo Benyamin Sueb - Ida Royani in the 70’s—is an acculturative form of music adapted from various ethnicities in Indonesia. The seeds of the art form date back to the 18th century. The Gambang Kromong melody, of Chinese musical notations, was introduced by the Chinese Indonesian, or Tionghoa Peranakan. Through crossfertilisation with Javanese, Sundanese, and Deli cultures, a harmonious music form emerged which is now known as a specific traditional art form from Jakarta. Together with its dynamic and engaging narration on the long history of cultural and musical assimilation, this film also describes today’s Chinese-Indonesians as the keepers of a Gambang Kromong musical legacy. Since the 15th century, their families lived in Sunda Kelapa (old Batavia / Jakarta) and had been slowly marginalized socially, economically, and geographically towards the suburban areas. Although most of them hold fast to the ancient Chinese custom, these people remain close, even inseparable, with the locals, thus breaking the stereotype of introverted-rich-Chinese-Indonesian. Based on the complexity of the Gambang Kromong music itself, this film remarks upon the humanitarian, poetic, musical, and even comical side of a sequestered culture.
|
|
||||||||||||||||||||
© 2005-2007. Powered by qinkqonk.com |
||||||||||||||||||||||