../index.html

kineruku
 
 
 

 

 

 

 

 

 

 


BACKGROUND ( IND / ENG )

 

Ketertarikan akan tema ini dimulai ketika inisiator proyek, Ariani Darmawan, secara tak sengaja menemukan CD rekaman MSPI / Smithsonian Folkways berjudul " Music from the Outskirts of Jakarta" pada akhir tahun 2001. Musik-musik yang masih asing di telinganya itu terdengar begitu menakjubkan sekaligus membuatnya merasa heran karena ia tidak pernah mendengarkan alunan musik tersebut sebelumnya.

Ketertarikannya semakin dalam ia rasakan ketika ia mulai mempelajari sejarah dan latar budaya yang membelakangi penciptaan musik tersebut. Hingga saat ini, dapat dikatakan bahwa musik Gambang Kromong adalah satu-satunya hasil budaya adaptif Tionghoa - Indonesia, atau yang lebih akrab disebut sebagai Tionghoa Peranakan.

Selain memiliki ketertarikan pribadi sebagai seorang Tionghoa Peranakan, sang inisiator pun merasa wajib membagi informasi yang ia miliki kepada khalayak umum tentang keberadaan budaya percampuran ini, disertai sejarah panjang pembentukannya. Orang Tionghoa, yang walaupun sebagian telah berabad-abad lamanya berada di Indonesia, masih tetap merupakan bagian terpisah dari penduduk Indonesia. Stereotip-stereotip kaku yang besifat rasis telah begitu mapan dibangun berdasarkan kepentingan masing-masing golongan. Belum lagi ditambah dengan keinginan masing-masing ras untuk tetap menjaga kemurnian dan keabsolutan budayanya.

Musik Gambang Kromong banyak mengajarkan kita bagaimana sebuah budaya dapat bertahan dan berkembang tanpa mengurangi kekhasannya bukan dengan cara menutup diri, namun justru dengan cara membuka diri terhadap kebudayaan-kebudayan lain. Alat-alat musik dan budaya-budaya Jawa, Sunda, Melayu yang sedikit demi sedikit dicerap bersama dengan alat musik dan nada khas Cina justru menjadikan musik ini terdengar begitu indah dan unik. Dan hebatnya lagi, percampuran tersebut tidak hanya terjadi dalam lantunan musik, tetapi juga dalam keseharian pelakunya. Para pelaku utama musik Gambang Kromong yaitu orang-orang Tionghoa Peranakan di pinggiran Jakarta yang secara turun-temurun telah ratusan tahun berada di tanah air ini, sedari dulu membuka dan membaurkan diri dengan orang-orang setempat tanpa segan ataupun takut mempertahankan adat istiadat nenek moyang mereka juga tradisi Konfucianisme. Mereka, walaupun dengan hidup yang pas-pasan, mencerminkan keteguhan dan ketulusan hati penduduk minoritas Indonesia yang secara sadar maupun tidak telah membantu mempertahankan keberadaan sebuah budaya lokal yang terpinggirkan.

Proyek yang dituangkan dalam bentuk film dokumenter berdurasi 60 menit ini adalah semua catatan tersebut yang secara ringan mengantarkan kita pada sebuah perenungan: sedalam apakah kita telah mengenal budaya kita sendiri, dan terlebih, diri kita sendiri.

 

BACK TO TOP

 BACKGROUND

It all began at the end of 2001 when the project initiator, Ariani Darmawan, stumbled upon a CD “Music from The Outskirts of Jakarta” of MSPI/ Smithsonian Folkways. It was something like she had never heard before, strange and altogether fascinating.

Her curiosity grew deeper as she discovered the history to the music. To this day, Gambang Kromong is known as the only adaptive-culture of the Chinese-Indonesians, or "Tionghoa Peranakan", as they are popularly referred to, literally meaning Indonesian-bred Chinese. Aside from Darmawan’s own personal interest as a Tionghoa Peranakan herself, she felt obliged to share whatever information she had with the public about the existence of this hybrid-culture, complete with its rich historical background.

After centuries of living in Indonesia, Chinese-Indonesians are still considered estranged from the rest of the society. Rigid racial stereotypes have been firmly attached to them, as a result of various political interests, not to mention the drive of the Chinese themselves to retain certain cultural purities and their heritage intact.

Gambang Kromong teaches us the survival extravagance of a culture; it opens itself up to other cultures, all the while retaining its unique identity. The Chinese musical instruments and cultures were slowly adapted with the Javanese, Sundanese, and Malay, weaving an imbricated and more beautifully distinct music. Outside of the music, this acculturation extended to include the daily life of the people.

The legacy of Gambang Kromong continues today with the Tionghoa Peranakan in the rurals of Jakarta’s outskirts. They have co-existed with the locals for hundreds of years, opening up their selves without relinquishing their ancestral culture. Although struggling to make ends meet, they demonstrate a valiant integrity in keeping alive a minority community within a marginalized local culture.

This project brings together an in-depth study and intimate portrait over an hour long documentary film, delivering its audience to a contemplative point: how much does one know about one's culture, and moreover, one's self?

BACK TO TOP

 

 

 

 

© 2005-2007 Powered by qinkqonk.com