|
Dari Catatan Awal Penggarapan Film Dokumeter Anak Naga Beranak Naga Tulisan ini pernah dimuat di Bandung Beyond Magazine, Edisi Chinese Parade Oleh Tarlen Handayani Mencari jawab atas pertanyaan Gambang Kromong punya siapa? Mungkin tak sesederhana ketika menanyakannya. Keragaman pengaruh yang membentuk musik Gambang Kromong, sangat menarik untuk ditelusuri. Itu sebabnya, ketika ditawari Ariani Darmawan untuk telibat dalam proyek penggarapan film dokumenter Anak Naga Beranak Naga, saya begitu exciting. Sebuah film dokumenter mengenai akulturasi kebudayaan Tionghoa dan Betawi yang melahirkan musik Gambang Kromong, tak mungkin saya tolak. Ketertarikan saya terhadap budaya Tionghoa dan bagaimana bentuk-bentuk kebudayaan yang berbeda bisa saling mempengaruhi satu sama lain, telah menarik perhatian saya sejak guru SD mengatakan nenek moyang kita berasal dari Cina Selatan. Selama ini saya mengenal Gambang Kromong identik dengan Lenong dan budaya Betawi. Dari wawancara awal dengan Tan Deh Seng, seorang musikolog yang menetap di Bandung, saya mengetahui, bahwa Gambang Kromong pertama kali diperkenalkan oleh orang-orang Tionghoa yang merantau ke Betawi sekitar abad ke 18. Titilaras yang kemudian dikenal dengan sebutan salendro Cina, kemudian menjadi pakem utama musik Gambang Kromong, bercampur dengan pengaruh kebudayaan Jawa, Sunda, Melayu, Deli yang akhirnya membentuk karakter yang khas dari musik Gambang Kromong itu sendiri. Keragaman unsur dan bagaimana akulturasi berbagai macam bentuk kebudayaan bisa melahirkan musik Gambang Kromong, tak urung membuat saya terpukau. Namun, ketika menyaksikan langsung bagaimana proses akulturasi itu secara langsung, menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi saya. 23 April 2005, Yang saya lakukan dua hari ini bersama Ariani atau biasa saya panggil Cik Rani dan teman saya Peter, seorang arsitek, cukup menarik. Survey Gambang Kromong ke Tanggerang. menemui Ang kang lan di belakang Kota Fantasi Bumi Serpong Damai, di desa bernama Jelupang. Ang kang lan, Cina Peranakan keling, hidup di antara benteng yang membatasi Kota Fantasi dan desa-desa yang semakin tergusur. Lahir dan berkembang sebagai Cina Betawi peranakan, semula nampak ragu untuk membuka diri, tapi setelah menyadari kami bukan ancaman, dia mulai menerima kami dengan baik. Ia menunjukkan VCD yang sengaja direkam dari pertunjukan Gambang Kromong ketika Ang Kang Lan mengawinkan anaknya. VCD sederhana tapi cukup bisa diniknmati. Kesadaran mendokumentasikannya yang sebenarnya patut dipuji meski untuk alasan yang sederhana. Saat bertemu Ang Kang Lan, saya belum 'ngeh' dengan apa dan bagaimana Gambang Kromong itu. Apalagi untuk menarik benang merah antara wacana mengenai Gambang Kromong dan para pelakunya yang salah satunya tersembunyi di balik Kota Wisata seperti Bumi Serpong Damai. Ang Kang Lan, gambang kromong, meja sembah, juga kota fantasi yang di bangun di tengah-tengah native people yang lebih dulu tinggal dan menetap membangun cara hidupnya sendiri. Mungkin dari titik ini saya bisa menemukan pemahaman tentang apa dan bagaimana gambang kromong dari dulu hingga kini, dari kontras itu. Dari desa Jelupang, perjalanan berlanjut ke Teluk Naga. Saya menemukan situasi sureal yang sulit dideskripsikan. Apakah ini mimpi atau realitas yang berlebihan? Rani, Peter dan saya mengunjungi lokasi survey kami berikutnya, melihat Gambang Kromong yang dimainkan di rumah kawin. Begitu masuk dan menjura memberi hormat pada tuan rumah yang punya hajat, kami bertiga langsung di sodori piring dan memilih makanan Tionghoa atau Betawi. yang membedakan keduanya adalah daging babi di masakan Tionghoa dan daging sapi di masakan betawi. Kesan sureal saya peroleh bukan karena saat itu adalah kali pertama saya melihat secara langsung Gambang Kromong yang dimainkan lengkap bersama cokek-cokeknya, tapi suasana keseluruhan. Rumah kawin membawa saya ke suasana kehidupan Cina peranakan tahun 30-an, encim-encim yang masih bersarung dan berkebaya nyonya dengan rokok kretek klepas klepus dari mulutnya. Cokek-cokek yang bergoyang mesra dengan encek-encek Cina Betawi. Suasana bener-bener seperti mimpi. Petang menjelang. Kami telah kembali di ibukota. Memilih makan malam sate ayam dan otak-otak di Toko Es Krim Ragusa. Belum cukup merasai jejak masa lalu, kami bertiga nongkrong dan minum kopi di Bakoel Koffie Cikini. Dari obrolan ngalor ngidul sampe pembahasan serius tentang benturan nilai dan siapa yang berhak menentukan nilai-nilai itu baik atau buruk, lebih tinggi atau lebih rendah. Sangat filosofis. Apakah ini seperti de javu? suasana seperti saat meneer-meneer minum kopi sambil ngobrol soal-soal inlander dan kehidoepan kaoem boemi poetra. Kami memperbincangkan Ang Kang Lan, Rumah Kawin, Cina Betawi peranakan dan pandangan tentang apa yang disebut seni tradisi atau bukan. Mungkin kami tak ada bedanya dengan meneer-meneer itu dulu. Membicarakan the other. Sesuatu yang berada di luar diri kami, sambil mencoba mencari jarak pandang dan cara pandang yang pas untuk melihat yang lain itu tanpa terjebak pada cara pandang yang eksotis. Mungkin kami sedang berusaha untuk tidak berlebihan memandang kenyataan, tapi tanpa sadar menciptakan hiperealitas yang lain, mengulangi de javu yang seabad lalu tak mungkin dilakukan oleh kami yang pribumi dan cina peranakan ini. 24-250405 Kembali ke Serpong. Menyambangi Ang Kang Lan dan grup Gambang Kromongnya dalam sebuah pesta pernikahan Cina Betawi peranakan di Bonang Dasana Indah, sebuah kompleks perumahan baru di daerah Serpong. Segan mendekat, karena merasa tak kenal dengan keluarga pengantin. Akhirnya kami cuma memandangi dari jarak jauh. Sambil memperbincangkan perpaduan perkawinan moderen dan Gambang Kromong. Pikiran saya campur aduk. Tiba-tiba Gambang Kromong, menjadi isu yang penting buat hidup saya akhir-akhir ini. Sementara di satu sisi, perkenalan saya dengan Gambang Kromong, baru saja terjadi. Semua informasi, referensi dan fakta yang saya saksikan tentang Gambang Kromong, seperti kepingan puzzle yang harus saya susun untuk menjawab pertanyaan besar yang menggembung semakin besar: Gambang Kromong punya siapa?
Di Balik Riset dan Penulisan Naskah ![]() Dalam setiap pertemuannya, kami, tim riset dan penulisan, mendominasi pembicaraan dengan menyampaikan pengamatan masing-masing terhadap musik gambang kromong yang kini tengah terjadi di lapangan. Tentu saja kami tidak lupa membahas dan menganalisa sejarah yang membangunnya, tapi kebanyakan pembicaraan tersebut dilakukan di sela-sela perjalanan, ketika makan pagi, atau sejenak sebelum tidur –karena toh semuanya telah tercatat rapi di notebook kami masing-masing. Apa yang terjadi di lapangan ketika pertunjukan tersebut kini masih dimainkan memang menyerap sebagian besar perhatian kami. Dalam tiap-tiap pertunjukan, kami senantiasa berpandang-pandangan, tersenyum, dan tertawa renyah sambil menikmati musik 'adu tangkas' yang tidak lagi memperhitungkan keindahan bentuknya. Keindahan, dalam pertunjukan musik gambang kromong menjelma menjadi sebuah kata kerja yang tidak lagi dianaktirikan sebagai sekadar objek. Sepanjang pendengaran dan penglihatan kami, komposisi musikal yang baik sebenarnya kini jarang diperdengarkan oleh orkes-orkes gambang kromong. Dalam sebuah acara perkawinan kita dapat menyaksikan si pendendang lagu dengan logat khas Betawinya yang cempreng mengadu kehebatan pantunnya, para panjak (pemain musik) beradu kekerasan volum masing-masing instrumen, wayang cokek berlomba mendapatkan perhatian tamu lelaki, dan para tamu beradu mulut serta kekuatan lewat minuman keras. Itu semua, disertai lapangan becek bertumpuk sampah, makanan dan penganan yang tak pernah berhenti mengalir memuaskan tamu, ruangan reyot beserta kursi plastik yang tidak pernah berganti model dan selalu berwarna heroik merah putih, muka-muka hitam-putih sipit-belo yang tak lagi dapat dikenali asal-usulnya, pasar dadakan yang tiba-tiba hadir mengelilingi tenda pesta, dan para encim yang sibuk berarisan di ruangan dalam tanpa menghiraukan pasangannya mengibing bersama para wayang cokek dalam dandanan menor, mengilustrasikan sebuah gambaran pertunjukan gambang kromong dalam suatu hajatan, dan pertunjukan itu tidaklah absah tanpa hadirnya segala elemen tersebut, secara bersamaan. Yang kami rasakan adalah suatu kekacauan, kekacauan yang timbul tanpa kesadaran ala pertunjukan sirkus rakyat, yang tanpa arahan sang pemimpin atau pun penguasa lalu menimbulkan suatu ritme, ritme yang indah tentang kehidupan. Mungkin karena itu semua, tidak pernah sekali pun tim riset bertemu tanpa pernah merenung dan berkata "gila, sureal banget ya". Surealitas, atau absurditas ini, sebenarnya tidak kami rasakan hanya karena lebarnya perbedaan yang menjarakkan dunia keseharian kami dengan dunia gambang kromong tersebut, tetapi juga karena sisi sejarah dan perkembangan musik ini sendiri. Gambang Kromong yang sejak awal memang tercipta sebagai sebuah bentuk kesenian akulturatif ini dilatarbelakangi oleh budaya gado-gado: Cina, Betawi, Jawa, Sunda, Melayu, dan dalam perkembangannya sendiri telah mengalami berbagai macam perubahan struktur bentuk maupun fungsi keseniannya. Musik ini tidak akan terbentuk apabila orang-orang Tionghoa Peranakan jaman dahulu yang karena kerinduannya memainkan nada-nada negeri asal mereka tidak 'meminjam' alat-alat musik setempat dan menggabungkannya dengan nada-nada musik tradisional Cina. Wayang cokek sebagai elemen pendukung dengan nilainya yang kini kian bergeser tidak akan ada tanpa pengaruh kesenian tayub dan ronggeng di pesisir pulau Jawa, pantun Melayu yang sangat besar pengaruhnya dalam pembentukan lirik pantun dalam lagu-lagunya. Juga musik tradisional campuran ini mungkin saja kini telah musnah apabila Benyamin Sueb tidak iseng mencampuradukannya dengan lagu-lagu popular masa kini. Gambang kromong adalah semua percampuran dan kompleksitas segala bentuk tersebut yang telah berevolusi lama seiiring dengan perjalanan sejarah yang panjang. Bicara tentang perjalanan, begitu pulalah kami mengidentifikasi proses pengenalan musik ini. Acara riset sekaligus pelesir gambang kromong yang kami lakukan hampir setiap minggunya adalah sebuah perjalanan sequential yang selalu dimulai dari sebuah kota besar bernama Jakarta dengan gedung-gedungnya yang menyesakkan dan berakhir di pelosok desa/kampung di mana kedekatan manusia dengan buminya adalah sedekat tapak kaki dan tanah yang diinjaknya. Sebelum melakukan riset, kami tidak pernah membayangkan akan dapat berinteraksi dan bertukar cerita dengan para pelaku gambang kromong, menyedihkan atau tidak, kami bahkan tidak pernah membayangkan sebelumnya keberadaan mereka di suatu sudut dunia yang terlupakan. Secara geografis, gambang kromong dan para pelakunya, dan bahkan juga para penikmatnya, hidup di kawasan-kawasan yang semakin hari kian termarjinalisasikan. Ketika kami mengunjungi sebuah grup gambang kromong di sebuah desa di bilangan Serpong, keterasingan itu terasa begitu menghimpit karena untuk mencapainya kami harus terlebih dahulu melewati kemegahan tak senonoh Bumi Serpong Damai, menyusuri benteng beton sepanjang sisi kota baru itu untuk akhirnya menemukan desa tersebut. Dalam perjalanan riset, kami tidak pernah mengetahui jelas keberadaan desa atau kampung yang harus kami kunjungi. Ketika pertama kali datang ke Teluk Naga, tempat gambang kromong subur bertahan, kami hanya tahu bahwa Teluk Naga berada di Tangerang, tapi tidak jelas di bagian mana. Sama halnya ketika mengunjungi rumah sesepuh cokek, Encim Masnah, kami hanya diberi tahu bahwa beliau tinggal di 'Sewan'. Hajatan-hajatan dengan pertunjukan gambang kromong pun diadakan di tempat-tempat terpecil Tangerang yang sama sekali asing bagi telinga kami: Bonang, Gunung Sindur, Desa Belimbing, Dadap. Namun berkat pepatah 'malu bertanya sesat di jalan', kami selalu berhasil menemukan tempat-tempat tersebut, walaupun kadang harus diiringi peluh dan kesah. Sesampainya di sebuah acara orkes gambang kromong, seketika otak kami terbius oleh aliran listrik hiruk-pikuk suasana. Seketika kami hanyut dalam iringan lagu lagu klasik pembuka Po Bin Kong Ji Lok, Stambul Cha-cha yang konon kini sedang digandrungi, hingga Keroncong Kemayoran versi khas gambang kromong. Siapa pun yang berada di sana seakan-akan tidak lagi sadar di mana mereka berada, dari mana mereka berasal dan ke mana mereka akan pulang nanti. Semua nampak bersuka cita dalam gelap terangnya cahaya buatan. Tanpa terasa waktu bergulir, tamu datang dan pergi, musik keras melantun tanpa henti. Jika tidak karena arloji, waktu tidak lagi bernyawa: dalam suasana yang hingar-bingar tersebut segalanya bergerak, menari dan terhenyak pada saat yang sama. Hanya ketika memohon diri untuk pulang dan meninggalkan tempat tersebut, kami kembali terbangun dari mimpi: kasarnya aspal dan pekatnya suasana perkampungan membangunkan kami. Luar biasa, kami pun mulai berceloteh, tanpa terasa gambang kromong telah berhasil meniadakan ruang dan waktu kesadaran, walaupun untuk sejenak. ___ Berdasarkan inti-inti pembicaraan di atas, kami sepakat untuk menganalogikan karya dokumenter ini sebagai sebuah lingkaran stadium gambang kromong dengan keragaman karakteristik pelaku, penikmat dan konteks tempat ia dimainkan. Selain itu analogi lingkaran ini juga kami pakai dalam menggambarkan kompleksitas perjalanan bentuk musik dan pendukungnya, perkembangan dan keberadaannya saat ini. Secara sequential keseluruhan karya ini akan dibenangmerahi oleh pertunjukan orkes gambang kromong dari satu tempat ke tempat lain (setting berubah-ubah dari hajatan pernikahan, acara lenong, hari jadi kelenteng, hingga pergelaran pariwisata). Perubahan secara audial dan visual ini diharapkan dapat memberikan nuansa ketiadaan waktu dan ruang, kekacauan, dan kompleksitas yang menjadi ciri-ciri pertunjukan orkes gambang kromong itu sendiri. Di tengah-tengah lingkaran besar kami merancang lima buah pintu menuju ruangan utama yang berisikan wawancara dengan pelaku-pelaku gambang kromong saat ini. Di dalam lima pintu yang terpisah dari lingkaran utama ini, kami membayangkan hadirnya atmosfer yang berbeda. Tidak seperti halnya orkes gambang kromong yang hiruk-pikuk, dunia ini adalah dunia yang tenang dan dekat dengan keseharian. Di antara lingkaran besar orkes gambang, dan lima pintu di atas, ditampilkan juga beberapa pintu-pintu kecil wawancara-wawancara dengan beberapa pengamat musik gambang kromong, budaya Tionghoa peranakan, dan sejarah Betawi. Melalui pintu-pintu kecil ini kami menuangkan fakta-fakta sejarah lisan maupun tulisan yang relevan dalam perkembangan kesenian dan percampuran budaya di balik musik gambang kromong. (Tarlen Handayani, Ariani Darmawan, Yenny Gunawan. Ditulis oleh Ariani Darmawan)
CATATAN SEBELUMNYA
Gambang Kromong Punya Siapa? |
|
||||||||||||||||||||
© 2005-2007. powered by qinkqonk.com |
||||||||||||||||||||||