|
Anak Naga Beranak Naga, Beranak Dimana-mana Ariani Darmawan, sineas perempuan yang lebih mantap disebut pekerja film ketimbang pembuat film ini, telah merampungkan film dokumenter pertamanya yang diberi tajuk: Anak Naga Beranak Naga. Melalui musik Gambang Kromong, film dokumenter ini sedikit banyak menggambarkan proses akulturasi budaya Tionghoa-Betawi. Dengan Gambang Kromong, Ariani mencoba mencairkan kebekuan relasi sosial produksi yang memposisikan Tionghoa dan Betawi pada posisi yang saling berseberangan, sehingga muncul istilah pribumi dan non-pribumi. Kenapa anda tertarik mendokumenterkan Gambang Kromong? Setahu saya, Gambang Kromong itu musiknya Benyamin. Tapi saya menemukan musik Gambang Kromong yang bukan dinyanyikan Benyamin. Menemukannya juga gak sengaja. Waktu dengerin musik itu, saya jadi keheranan. Karena saya belum pernah mendengar musik itu sebelumnya. Sekilasan sih mirip yang suka dinyanyikan Benyamin di film yang ditayang di televisi. Saya kagum berat dengan musik tersebut. Berapa lama anda meriset film itu sampai diproduksi? Enam bulan. Dari 2004 akhir sampai Mei 2005. Ya udahlah, bikin nekad aja. Pertama saya datangi MSPI, terus saya lihat di dalam studio itu, rekamnya dimana, saya keliling ngejar itu semuanya kayak ada jalannya. Kayak di Teluk Naga, Tangerang, semua orang tahu gambang kromong. Penulisannya sendiri ditulis awal April. Setelah rampung, anda puas dengang film dokumenter pertama ini? Secara bentuk lebih informatif. Film-film sebelumnya lebih banyak bermain eksperimen, tapi yang ini biasa banget, mungkin karena saya bermain dengan ego saya. Dalam arti permainan bentuk itu lebih dikurangi, kalau secara bentuk sih saya tidak puas. Tapi apalah artinya kepuasan pribadi kalau kita tidak memberikan informasi kepada orang banyak. Saya tidak mengedepankan kepuasan subyektif. Tapi yang penting adalah dapat memberikan bahan buat publik untuk berapresiasi, entah merenung, entah berpikir. Saya tidak bisa melakukannya sendiri. Saya pikir, film pertama ini adalah provokasi bagi saya kepada semua yang akan membuat atau melanjutkan tema serupa. Atau sekadar bahan inspirasi membuat dokumenter budaya di tempat lain. Kebanyakan dokumenter budaya di indonesia dibuat oleh sineas bule. Kenapa tidak kita sendiri yang bikin. Biar Anak Naga Beranak Naga, bisa beranak dimana-mana. Sebetulnya yang ingin anda angkat, gambang kromongnya atau kehidupan orang-orang China Peranakan? Saya lebih banyak bicara akulturasinya, walaupun sekarang budaya China dikembangkan. Tapi tetap yang saya inginkan adalah bukan Chinanya tapi bagaimana kita bisa menghargai budaya orang lain. Bahwa percampuran dua budaya itu jauh lebih menarik ketimbang kita mengangkat satu kebudayaan saja. Kayaknya banyak orang yang menjunjung tinggi (adiluhung) budayanya masing-masing. Tapi lihatlah studi kasus ini, bahwa penggabungan dua budaya itu lebih dinamis, lebih natural. Kalau harus berubah, ya berubahlah. gombong masuk, gendang masuk, ngibing masuk, maka jadilah gambang kromong lagu sayur. Saya lebih menekankan akulturasinya. Kenapa kok pemutaran perdana film ini hanya digelar di Jawa-Bali? Padahal kan, akulturasi budaya Tionghoa merambat juga sampai Sumatera? Problemnya di dana saja. Ini kan dana sendiri, tidak ada sponsor. Yah… empot-empotan juga. Untungnya banyak yang tertarik bekerja sama memutar film ini. Saya bersyukur sekali. Ternyata niat baik pasti akan diganjar dengan kebaikan juga. Kok bicara akulturasi budaya, judul filmnya Anak Naga Beranak Naga? Ada satu lagu di Ballo-ballo, yaitu anak ikan beranak ikan, itu lucu sekali liriknya, dan saya suka sekali, ya udah itu saya ganti dengan anak naga. Karena naga dekat sekali dengan budaya Tionghoa, anak naga yang bukan aslinya tapi mereka tetap bangga dengan identitasnya. Rasa kepercayaan bahwa mereka keturunan cina di Indonesia dan mereka bangga dengan identitas mereka.Dikutip dari Indosinema Dikirim tanggal: 07 April 2006
ARTIKEL LAINNYA / OTHER ARTICLES:
Anak Naga Beranak Naga, Beranak Dimana-mana |
|
||||||||||||||||||||
© 2005-2007. powered by qinkqonk.com |
||||||||||||||||||||||